Senin, 13 April 2009

P A R M U S I

Oleh: Yosrizal Gavar

AWAL BERDIRI

Akibat dari pemberontakan PRRI, dengan pusat pemerintahannya di Bukittinggi, mayoritas pemimpin-pemimpin Masyumi dipenjarakan oleh rezim ORLA dan Masyumi dibubarkan. Setelah ORLA tumbang digantikan dengan ORBA, tokoh-tokoh Masyumi yang ditahan dibebaskan antara lain : M. Natsir, Buya HAMKA, Syafrudin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimejo, Muhammad Roem dan lain lain, sejak itu timbullah harapan agar Masyumi direhabilitasi dan diberikan hak hidup kembali.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh tokoh-ptokoh Masyumi untuk merehabilitasi nama Masyumi anatara lain dengan membentuk suatu badan yang bernama Badan Koordinasi Amal Muslimin (BKAM) dibentuk pada tanggal 16 Desember 1965.

Tetapi usaha-usaha yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Masyumi maupun oleh pihak lain yang bersimpati kepada Masyumi menemui jalan buntu, begitupun usaha dari tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk menegakkan kembali PII (Partai Islam Indonesia) dihalangi, Bung Hatta yang inigin mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII) pun tidak diizinkan fhobia akan kebangkitan partai Islam menjangkiti pemerintah.


PARTAI MUSLIMIN INDONESIA (PARMUSI)

Badan Koordinasi Amal Muslimin (BKAM) kembali bersidang, para pemimpin Islam tidak menyerah begitu saja, pada sidangnya tanggal 7 Mei 1967 dibentuklah panitia 7 (tujuh) yang diketuai oleh tokoh Muhammadiyah yaitu H. Faqih Usman, setelah melalui beberapa kali pertemuan dan perjuangan yang berat, akhirnya pemerintah memberikan izin untuk mendirikan sebuah parpol baru yang akan menampung aspirasi umat Islam, khususnya bwekas konstityuen Masyumi, dengan syarat mantan-mantan pemimpin Masyumi tidak boleh menduduki jabatan yang penting dalam tubuh partai Parmusi.

Parmusi disahkan berdirinya melalui Keputusan Presiden No. 70 tanggal 20 Februari 1968, kemudian diangkatlah sebagai ketua Umum Djarnawi Hadikusumo dan sekretaris umumnya Drs. Lukman Harun, keduanya adalah aktivis Muhammadiyah.


INTERVENSI DAN REKAYASA

Setelah resmi berdiri intervensi pemerintah terhadap partai Parmusi sangat kental aromanya, sewaktu diadakannya kongres partai yang pertama tanggal 4-7 November 1968 yang diadakan di Malang Jatim terpilihlah Muhammad Roem sebagai ketua, Muhammad Roem pernah menjadi Menteri Luar Negeri dan PM dari partai Masyumi, dalam perjuangan kemerdekaan sebagai Menteri Luar Negeri dan Juru Runding pemerintahan Republik Indonesia beliau terkenal dengan perjanjian Roem-Royen.

Reaksi pemerintah langsung datang, dengan tidak merestui Roem sebagai ketua Parmusi, sebagai salah seorang tokoh teras Masyumi, naiknya Roem dikhawatirkan akan membangkitkan Neo Masyumi, melalui sekretaris negara Alamsyah Ratuprawiranegara mengirimkan telegram kilat kepada kongres yang sedang berlangsung, bahwa pemerintah tidak merestui terpilihnya Muhammad Roem sebagai ketua Parmusi. Akhirnya kongres kembali menempatkan Djarnawi Hadikusumo dan Drs. Lukman Harun sebagai ketua dan sekretaris umum Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI).

Kepemimpinan Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun berlangsung tidak lama, dikarenakan pemerintah menilai duet kepemimpinan yang berasal dari Muhammadioyah ini dinilai oleh pemerintah tidak kooperatif dengan kepentingan penguasa, terjadilah pemaksaan kehendak disodorkanlah John (Jailani) Naro dan Imron Kadir, masing-masing sebagai ketua dan sekretaris PARMUSI, akibat dari pemaksaan ini Parmusi mengalami konflik yang tajam dikalangan internal partai.
Akhirnya pemerintah melalui kepresnya No.77/1970 tanggal 20 November 1970, kembali campurtangan dengan menunjuk tokoh Muhammadiyah yang dinilai kooperatif dengan pemerintah yaitu HMS Mintaredja, saaat itu menjadi menteri sosial dikabinet ORBA.

Intervensi dan rekayasa yang dilakukan penguasa membuat Parmusi lemahdan rapuh, sehingga tidak bisa mengembalikan kejayaan Masyumi dahulu. Dalam pemilu tahun 1971, Parmusi hanya dipilih kurang dari tyiga juta pemilih atau sekitar 5.36 persen saja.

Setelah pemilu tahun 1971 pemerintah mewajibkan partai untuk melakukan fusi partai politik atau restrukturisasi, penggabungan, penyedcrhanaan partai-partai politik di Indonesia Parmusi dan partai partai Islam lainnya berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).


DJARNAWI HADIKUSUMO

Djarnawi Hadikusumo dilahirkan di Kauman Yogyakarta, Ahad 4 Juli 1920, beliau putra dari Tokoh nasional dan Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo - Siti Fatimah.
Sejak awal Djarnawi telah didik di Muhammadiyah sejak dari Bustanul Athfal, Standaardschool Muhammadiyah, Kweekschool hingga terakhir di Madrasah Muallimin Muhammadiyah.

Djarnawi juga adalah salah seorang pendiri Perguruan Tapak Suci Putra Muhammadiyah, yang didirikan tanggal 31 Juli 1963. Sebagai salah seorang pendekar pencak silat beliau memang diakui akan kemampuannya. Pada awalnya Djarnawi belajar pencak silat di Kauman Yogyakarta, kemudian ketika ia bermukim di Sumatera, ia belajar pencak silat kepada Sutan Chaniago dan Sutan Makmun, dua orang pendekar bewsar di Sumatra Utara ketika itu.

Djarnawi Hadikusumo meninggal dunia pada tanggal 26 Oktober 1993 dalam usia 73 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar