Selasa, 14 April 2009

L E B A R AN


Oleh : Yosrizal Gavar


Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah

Setahun sekali ke kota naik bis pere
Hilir mudik jalan kaki pincang
sampai sore

Akibatnya jebol kaki sepatu terompah
Kakinya pada lecet babak belur berabe

Syair gubahan Ismail Marzuki ditahun 50-an diatas sampai sekarang masih relevan dengan keadaan masyarakat sekarang. Syair di atas menggambarkan suasana rakyat dalam merayakan lebaran, bahagia, sederhana apa adanya. Kegiatan rutin nyaris berhenti bahkan untuk beberapa hari ibu-ibu tidak menanak nasi, karena sudah dimasak ketupat tahan basi.

Dapatlah dikatakan tidak ada pesta rakyat semeriah dan seramai serta merakyat selain lebaran, rumah-rumah dirapikan, pakaian baru disiapkan, betul-betul spesial.

Pengarang terkenal Aman Dt Madjo Indo dengan sangat manis menggambarkan suasana hati satu keluarga di Betawi dalam bukunya Si Doel Anak Betawi : Dalam buku itu diceritakan bagaimana si Doel penjual kue keliling sedih, gundah gulana hatinya dikarenakan lebaran sudah dekat sedangkan baju baru belum terbeli, dikarenakan keadaan yang serba kekurangan, sementara sang emak tiada daya berlinang air mata namun dimalam takbiran apa yang diidamkan didapat berkat sadakah yang diterima, zakat membantu orang yang ingin merayakan lebaran, agama mengajarkan jangan sampai ada yang tidak makan di 1 Syawal semuanya sudah harus berbuka.

Bagi rakyat kecil merayakan lebaran sudah cukup menggembirakan dengan mengunjungi jiran tetangga, handai taulan, karib kerabat, seharian pincang sampai sore.

Tetapi terkadang ada juga yang patut disesalkan, bahwa di dalam perayaan Idul Fitri segelintir manusia merayakannya dengan cara melanggar norma agama, norma susila dan menyusahkan orang banyak, sebuah lagu lama menggambarkan berikut ini :

Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan itu dipakai untuk berjudi
Main ceki sambil mabuk brendy

TRADISI

Mudik adalah tradisi dalam merayakan lebaran, sejak kapan ini dimulai tidak ada data yang pasti, mereka menabung dari bulan ke bulan untuk biaya dan dibawa mudik, tidak diingat jerih selama setahun, terlupakan setelah bertemu orang tua dan handai taulan, hal ini tidak bisa dicegah walaupun lalu lintas macet menghadang, keletihan menimpa semuanya terbayar lunas dihari lebaran.

Meskipun demikian tentu saja tidak semua para perantau mampu pulang ke kampung halaman, tidak sedikit yang terkapar di pondok-pondok reot, kolong jembatan, tidak bisa tahun ini Insya Allah tahun depan.

Bukan padi seluluh ini
Tanjung Raya Jalan pulang
Pandanku saja yang tak tampak

Bukan hati sesusah ini
Dihari raya dagang pulang
Badanku saja yang tak tampak

Shilaturrahmi saling bersalaman, saling mengunjungi merupakan acara paling banyak menghabiskan waktu, setelah dikunjungi tentu balas mengunjungi dan tentu bersalaman lagi. Diucapkan Mohon maaf lahir dan bathin, bergaul saja belum, punya urusan juga tidak ucapan minta maaf lahir bathin sudah membudaya, mudah-mudahan kita paham maknanya.

Bukalah pintu rumah anda yang bagus lebar-lebar, bukalah juga pagar besi tinggi itu, tetanga anda yang fukara dan masakin merasa takut mendatangi rumah anda sebab siang malam selalu ditutupi pintu besi, lebih mulia lagi kalau kita yang lebih dahulu mendatangi

Bukan hanya kunjungan kepada yang masih hidup dilakukan, kepada yang sudah meninggal pun tidak ketinggalan, tempat-tempat pemakaman ramai dikunjungi.

Berziarah ke kuburan termasuk yang dianjurkan, Rasulullah SAW mengatakan bahwa: berziarah adalah untuk mengingatkan kita

PENGARUH MAKANAN PADA PERILAKU

Oleh : Drs. H. Aprizaldi

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al-baqarah 172).”

Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk memahami hakekat Islam secara utuh. Konsep inilah yang menjadi landasan pokok dakwah Muhammadiyah. Umat Islam dituntun mengenal Islam tidak hanya sekedar konsep teoritis, melainkan harus diterjemahkan ke dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari termasuk dalam masalah makanan.

Kita mengenal dua macam istilah makanan dan minuman dalam Islam. Pertama halal berarti “diizinkan“ atau “dibolehkan”. Istilah ini dalam konotasi sehari-hari sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang boleh dikonsumsi menurut Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam.

Kedua haram adalah sebuah status hukum terhadap sesuatu dalam hukum Islam, yang konsekuensanya berupa dosa. Makanan atau minuman tertentu dapat memiliki status haram sehingga memakan san meminumnya juga berakibat dosa.

Setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah SWT. untuk senantiasa mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal lagi baik yaitu mengandung gizi dan vitamin yang cukup untuk kebutuhan tubuh. Dua hal di atas, baik disamping akan menyebabkan terjaganya kesehatan jasmani, juga akan semakin mendorong meningkatkan ketakwaan serta syukur kepada Allah SWT. Sebaliknya, makanan yang haram baik substansi mauoun cara mendapatkannya, meskipun secara lahiriyah mengandung gizi dan vitamin yang memadai, akan menumbuhkan perilaku yang buruk dan merusak, baik bagi diri dan keluarganya. Dari alam dunia bahkan sampai nanti di alam akhirat.

Rasulullah SAW. Bersabda : setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka nerakalah yang lebih utama tempatnya. (HR. Thabrani). Artinya yang haram itu akan menjadi darah dan kotor yang dapat mendorong perilaku jahat, saesat dan merusak.

Makanan maupun minuman termasuk binatang yang diharamkan secara zat, sangat mudah untuk diketahui, karena jumlahnya sangat sedikit dari jumlah yang ada, dan hampir semua orang mengetahuinya, yaitu : bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah SWT. (kecuali dalam keadaan darurat) (QS. Al-Baqarah : 172-173), binatang yang mati bukan karena disembeli (QS. Al-Maidah : 3) dan khamar (QS. Al-Maidah : 90).

Disamping zatnya yang harus lebih diperhatikan juga sifat harta itu yang memerlukan perhatian, pikiran, hati dan keimanan untuk menentukan cara mendapatkannya. Misalnya tidak melalui penipuan, kerupsi, membungakan uang, menerima suap dan cara-cara bathil lainnya. Apalagi mengambil harta milik orang banyak yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Allah SWT. berfirman : Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dngan jalanyang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu sendiri mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188).

Barang yang tidak jelas kehalalannya (syubhat) saja dilarang untuk dikonsumsi atau dimiliki, apalagi yang jelas keharamannya. Disinilah nilai keimanan dan keislaman seseorang diuji. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT. oleh seseorang walaupun dengan sangat sungguh-sungguh, akan tetapi orang itu bergelimangdengan makanan dan minuman yang haram, maka doa akan tertolak (HR. Muslim). Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa kemabruran (diterima) atau kemardudan (ditolak) haji yang dilakukan oleh seseorang bergantung kepada biaya yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji tersebut.

Demikian pula perilaku anak keturunan manusia sangat ditentukan oleh makanan yang dikonsumsinya. Oleh karena itu orang-orang Islam pasti akan selalu berusaha mendapatkan rizki yang halalan thayyibah, baik bendanya maupun cara memperoleh agar perilakunya istiqamah dalam kebajikan.

Terhadap sikap dan tingkah laku, pengaruh barang haram ini juga membuat jiwa tidak pernah tenang dan tentram, selalu gelisah, keluh kesah, diliputi rasa takut dan was-was karena selalu dipengaruhi oleh perasaan berdosa sebagai akibat dari darah dan dagingnya memang tumbuh dari benda-benda yang haram.

Rasul, Nabi dan orang-orang yang saleh menjadikan makanan dan minuman sebagai awal dari pola hidupnya. Dengan melalui latihan dan kebiasaan yang rutin, sehingga orang-orang saleh ini mempunyai alat untuk mendeteksai makanan dan minuman halal atau tidak. Sebagian hasil dari latihan jiwa ternyata mampu untuk mengetahui apa yang dikonsumsi akan memberiakn ketenangan kalau halal, dan menimbulkan goncangan yang luar biasa, apabila benda itu berasal dari yang haram.

Masalahnya kembali kepada ketiak kita mengkonsumsi yanghalal atau yang haram. Adakah perbedaan? Jika tidak ada, perlu latihan dan pembiasaan dalam pola hidup, agar sinyal pendeteksi yang halal atau yang haram dalam tubuh kita tetap on line.

ALKISAH

Seorang sufi muntah-muntah setelah makan siang. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apa gerangan yang salah di dalam dirinya. Bertahun-tahun ia menempuh hidup secara teratur. Makan dan minumnya dalam jumlah yang diatur sesuai tuntunan biologis. Tak ada makan dan minum tanpa tuntutan gengsi maupun selera zaman. Ia berpendirian bahwa makan dan minum baginya cuma sebagai sarana memuji kebesaran Allah SWT. Cuma itu. Tak ada fungsi lain. Dan ia selalu sehat. Porsi, jenis dan fungsi makan yang ia tetapkan sudah benar. Tak ada sesuatu pun yang salah. Tapi mengapa sekarang ia muntah-muntah? Ia tidak masuk angin. Perutnya sedang tidak mulas, pokoknya badannya sehat.

Maka dipanggil pembantunya. Ia merasa bahwa dari si pembantu penjelasan bisa diperoleh. “Dari mana dibeli sayuran yang dimasak hari ini?”. Tanya sang sufi. Pembantunya melaporkan apa adanya. Tadi ia agak kesiangan ke pasar. Sayuran yang dijual di pasar sudah habis. Maklumlah pasar yang kecil lagi baru. Pedagang pun terbatas. Sebagian bahkan sudah pulang. “Untunglah digalang sawah tetangga kita ada daun kacang panjang. Saya memetiknya segenggam, itulah sayuran yang saya masak hari ini.” Jawab pembantu polos. Sang sufi mangguk-mangguk. Ia sekarang tahu jawabannya, daun kacang itulah penyebab muntah-muntahnya.

Selama ini ia hanya memakan makanan yang halal. Apa yang dimakan diperoleh secara halal. Tak ada barang gelap yang tak jelas status hukumnya. Ia tahu pembantunya salah. Tapi tak disalahkan.

Senin, 13 April 2009

AJARAN POKOK NABI MUHAMMAD SAW

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghimpit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang Iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang Ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya walaupun Anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat Anda. Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim).
Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit / Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi / Rasulullah s.a.w).
Ajaran pokok Rasulullah saw menurut Hadits diatas adalah :
1. Islam
Islam artinya berserah diri kepada Tuhan, adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Agama ini termasuk agama samawi (diturunkan dari langit). Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti penyerahan, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti seorang yang tunduk kepada Allah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208).
Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 macam. Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena rukunnya tidak sempurna :
Pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits yang sahih dan mengamalkannya
Kedua adalah Shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at. Shalat adalah tiang agama barang siapa meninggalkannya berarti merusak agamanya.
Ketiga adalah Puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.
Keempat adalah membayar Zakat bagi para muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Zakat merupakan hak orang miskin agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.
Kelima adalah Haji ke Mekkah jika mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi tidak berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam keadaan munafik.
2. Iman
Iman artinya percaya. Perkataan iman diambil dari kata kerja 'aamana' yukminu' yang berarti percaya atau membenarkan. Iman itu ditujukan kepada Allah, Rasul dan Para Imam.
Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang didalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip.
Firman Allah : Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (QS. Al-Qashasha : 70 ).
Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti.
Firman Allah : Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun (selain pasir kepanasan) (QS. An Nuur : 39).
Firman Allah : Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS. Ibrahim : 18).
Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap bukan sekedar taqlid atau ikut-ikutan. Sebagaimana hadits di atas. Rukun Iman ada 6:

Pertama Iman kepada Allah. Artinya kita meyakini adanya Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan secara rinci tentang hal ini.
Kedua adalah iman kepada Malaikat-malaikat Allah. Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba Allah yang selalu patuh pada perintah Allah.
Ketiga adalah beriman kepada Kitab-Nya. Kita yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil kepada Isa, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Kita harus meyakini kebenaran Al Qur’an dan mengamalkannya:”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2].
Keempat adalah beriman kepada Rasul-rasul (Utusan) Allah. ( QS. Al Ahzab : 40).
Kelima adalah beriman kepada Hari Akhir (Kiamat/Akhirat). Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu saat akan tiba hari Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab. Orang yang beriman dan beramal saleh masuk ke surga. Orang yang kafir masuk neraka. Selain kiamat besar kita juga harus yakin akan kiamat kecil yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk itu kita harus selalu hati-hati dalam bertindak.
Keenam adalah percaya kepada Takdir/qadar yang baik atau pun yang buruk. Meski manusia wajib berusaha dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus menerima dan mensyukurinya sebagai takdir dari Allah.
3. Ihsan
Ihsan artinya berbuat baik dengan mengharapkan ridha Allah. Artinya : berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu. (QS. Al-Qashash : 77 ).
Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.
Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.

PEMIMPIN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

Firman Allah: Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (QS. Al-Anbiyah : 105)
Indonesia adalah negara demokratis dan berpenduduk Islam terbesar didunia harus bebas dari sikap anargis dan kudeta. Pada suatu Hadist : Apabila ada 3 orang sedang berpergian (musyafir) maka hendaklah kamu mengangkat salah seorang Imam diantara kalian.
Jika tiga orang saja perlu diangkat pemimpin, maka apalagi negara Indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 200 juta, maka urgensi pemimpin sangat perlu dipilih dan diangkat seorang sebagai pemimpin. Pada kondisi kita akan pemilihan anggota legislatif, maka ummat Islam agar tidak golput (tidak ikut memilih). Pada saat pemilu 9 April 2009 mendatang, maka wajib dipilih caleg yang memenuhi kualifikasi keta'atan dan diambil yang paling taat.
Hal ini seperti saat memilih seseorang untuk menjadi Imam Sholat, yaitu: orang yang lebih fasih bacaannya, yang lebih paham Sunah Nabi, yang lebih dulu berhijrah/masuk Islam, yang lebih cerdas.
Bisa juga melihat sifat-sifat Nabi sebagai kriteria untuk menjadi pemimpin, yaitu: shiddiq (orang yang benar), amanah (orang yang jujur), tabligh (menyampaikan ayat-ayat Allah) dan fathonah (orang yang cerdas, meliputi kecerdasan intektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
Islam sangat memberikan perhatian yang lebih pada masalah kepemimpinan, karena hidup ini harus ada yang memimpin dan tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan. Dulu pada awal Islam pemimpin kaum Muslimin adalah langsung dikendalikan oleh Rasulullah saw. dengan bimbingan wahyu Allah.
Betapa pentingnya kepemimpinan dalam Islam bisa dilihat dalam sejarah saat meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Ketika saat itu sempat tertunda pemakaman Rasulullah saw, dimana para sahabat berkumpul dirumah Bani Saits untuk memilih kepemimpinan para kaum Muslimin. Para sahabat mendahulukan pemilihan kepemimpinan ini karena menyadari betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dan kepemimpinan itu tidak boleh kosong.
Pada waktu itu terpilih Abu Bakar Shiddiq ra. sebagai pemimpin kaum muslimin dan kita ketahui bersama apa saja alasan para shahabat memilih Abu Bakar. menjadi pemimpin. Alasan tersebut antara lain : Abu Bakar paling tua diantara para shahabat. Abu Bakar paling dekat kepada Nabi Muhammad saw terlihat sebagai orang yang menemani Rasulullah saat Hijrah. Ketika Nabi sedang sakit payah, maka Abu Bakar lah yang ditunjuk Rasulullah sebagai Imam Sholat. Abu Bakar lah orang yang pertama kali membenarkan Isra' dan Mi'raj Rasulullah saw. Ketika semua orang tidak mengakuinya sehingga mendapat gelar ash-shidiq. Dan lain lain.
Pada saat ini bangsa Indonesia sedang terpusat perhatiannya pada pemilihan senator DPRD Kabupaten Rejang Lebong, DPRD Propinsi Bengkulu, DPR dan DPD RI, karena memang masyakat Indonesia sangat mementingkan dalam masalah kepemimpinan. Karena pemimpin itu merupakan wahyu Allah dimuka bumi yang disebut kholifah, artinya pengganti.
Memilih adalah menentukan sesuatu yang paling disukai diantara banyak pilihan dengan cara mengambil yang terbaik dan membuang yang jelek. Menentukan pilihan ditengah banyaknya alternatif membutuhkan kecekatan, apalagi barang pilihan itu tampaknya sama baiknya, sepadan atau setara satu sama lain. Kesamaan keadaan ini tidak jarang membuat orang bingung. Ada yang bingung karena faktor bendanya yang tidak jelas atau karena faktor orangnya yang kurang mengerti kualitas barang serta kepintaran orang menjual barang dagangannya. Bingung yang mengacaukan hati adalah pada saat faktor pemicunya itu datang dari penjaja barang yang terlampau lihai menjual barang dagangannya. Dan yang paling menyakitkan lagi adalah jika pada akhirnya pilihan itu ternyata salah.
Islam tidak mengizinkan penganutnya menjadi umat yang bingung atau sengaja bermain dalam lingkaran kebingungan. Disinilah arti penting agama sebagai panduan dan pedoman kehidupan, menjadi keniscayaan seperti Firman Allah: Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (QS. Adh-Dhuha : 7). Ayat ini menggariskan, bahwa kunci kebingungan adalah petunjuk, dan sebaik-baik petunjuk adalah Al-Quran yang didasarkan pada fundamental Iman yang benar, seperti disebutkan dalam firman-Nya yang lain (QS. Asy-Syura : 52).
Rasulullah ketika menjalani perjalanan Isra' dan Mi'raj, memilih susu (yang sedikit anyir) dari pada meminum Khamar (yang sangat enak dan menggiurkan). Jibril pun memujinya: Pilihanmu benar Ya Rasulullah ! kata Jibril. Pilihan yang benar adalah pilihan yang sesuai dengan suara hati sekaligus panggilan Iman bukan atas dasar paksaan, tekanan, pemberian sesaat atau tipuan gombal caleg atau pihak lain.
Jadi pemimpin seperti apa yang sebaiknya diangkat oleh ummat Islam Indonesia ini? Secara umum Al-Qur'an sudah memberikan kriteria pemimpin yang harus dipilih yaitu firman Allah diatas (QS Al-Anbiya': 105). Jadi yang mendapat mandat mengurusi manusia dimuka bumi ini hanyalah orang-orang Sholeh, bukan orang-orang kafir yang akan membuat kerusakan dan mengundang bencana. Jika orang engkar memimpin dimuka bumi ini, maka terlihatlah dunia ini bukan semakin baik, tapi malah rusak dan hancur.
Kriteria orang sholeh itu bisa dilihat ayat Allah: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)". (QS Al Maidah : 55). Jadi kriteria orang sholeh yaitu : mendirikan Sholat, membayar Zakat, dan tunduk pada aturan Allah.
Dalam agama Islam ada dua komponen yang tidak bisa terpisahkan, yaitu kekuasaan dan agama. Seperti kata Ibnu Taimiyyah: agama Islam tidak akan bisa tegak/abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama.
Al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Walayat al-Diniyyah. Kitab ini memang menjadi rujukan penting dalam hal hukum tata negara dan kepemimpinan dalam Islam bahwa syarat-syarat seorang pemimpin adalah adil, mempunyai kompetensi ijtihad, sempurna dan sehat panca-indra, tidak cacat secara fisik, mempunyai visi kemaslahatan sosial, tegas dan berani, serta mempunyai garis keturunan yang jelas.
Pengangkatan dan Pengisian Jabatan Politik Sistem politik sekuler modern yang diperkenalkan lewat proses kolonialisme oleh bangsa-bangsa Eropa, telah menempatkan sistem politik Islam termarginalkan di negara-negara muslim sendiri. Hal ini tampak misalnya dalam tataran empirik sulit mencari sebuah negara muslim yang bisa dijadikan model sistem politik Islam yang sesuai dengan praktik-praktik politik kenabian dan para sahabat.
Aturan politik Islam penting dipertimbangkan karena ia berkaitan secara langsung dengan sistem rekrutmen politik atau sistem pemilihan pemimpin dalam pemerintahan. Hal ini sangat penting untuk memberi penjelasan terhadap mekanisme pemilihan pemimpin dan pengisian jabatan-









jabatan strategis dalam pemerintahan diantara persoalan yang diperselisihkan setelah kewafatan Rasulullah SAW adalah persoalan kekuasaan politik atau persoalan al-imamah.
Makna memimpin masyarakat ditemukan dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah tentang kepemimpinan ummat.
Kepemimpinan para nabi bertujuan untuk mengusahakan agar rakyat kembali hidup sesuai dengan ajaran agama Tauhid. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa konsep yang terkandung dalam istilah siyasah adalah politik yang bermakna politik rehabilitatif (pemulihan) dari kesesatan kepada ajaran-ajaran dan praktik keagamaan yang benar. Dengan pemikian, dalam konteks ini, politik atau siyasah dalam literatur profetik merupakan sebuah proses penataan dan rehabilitasi kehidupan manusia yang sudah menyimpang dari ajaran-ajaran Tauhid.
Politik sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sebuah proses perebutan kekuasaan untuk tujuan-tujuan duniawi. Oleh sebab itulah, tugas seorang pemimpin dalam Islam adalah himayat al-din wasiyasatu al-dunya (melindungi agama dan memelihara ketertiban sosial politik).
Semoga kita diberi kekuatan untuk ikut berpartisipasi memilih pemimpin yang akan datang. Mudah-mudahan pilihan kita tidak salah. Bagi pemimpin yang terpilih, Nabi bersabda :

PARTAI AMANAT NASIONAL (P A N)

Oleh: Yosrizal Gavar

ASPEK HISTORIS
Sebagai sebuah organisasi yang mengumandangkan amar ma’ruf nahyi mungkar, Muhammadiyah pada waktu itu prihatin dengan kondisi bernegara yang diibaratkan dengan api di dalam sekam, tenang di luar panas di dalam lama kelamaan sekam akan habis digerus api, diistilahkan oleh Syafe’I Ma’arif pada waktu itu dengan negara ibarat kayu yang dimakan rayap, terlihat indah diluar rapuh didalam hadist Rasulullah mengatakan “ Sesungguhnya manusia akan menyaksikan perbuatan zalim, ia tidak mau mencegahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan kezaliman itu pada masyarakat sebagai balasan dari Allah”(HR Daud dan Tirmizi dari Abu Bakar).
Pada sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya Desember 1993, isu suksesi yang dikumandangkan oleh Amien Rais menjadi perbincangan banyak pihak, walaupun pada akhirnya isu suksesi ini tidak menjadi keputusan Tanwir Muhammadiyah, tetapi membuat masyarakat tersadar bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis kepemimpinan yang mana nanti sejarah membuktiklan krisis kepemimpinan ini akan menjadi-jadi pada tahun 1998 mengakibatkan terjadi krisis multidimensional, yang dampaknya masih kita rasakan saat ini.
Pada Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh tahun 1995, Amien Rais terpilih sebagai ketua Umum Muhammadiyah, setelah sebelumnya sebagai pejabat sementara Ketua Umum dikarenakan meninggalnya ketua umum Muhammadiyah pada waktu itu KH.Azhar Basyir.MA. Lokomotif reformasi menderu lebih kencang, angin perubahan semakin deras tiupannya.
Semarang 5-7 Juni 1998, sidang Tanwir Muhammadiyah dilaksanakan, ditengah suasana bernegara yang tengah dilanda krisis dimensional, krisis yang melanda segala dimensi dan sendi kehidupan bermasyarakat, etika, akhlak, ekonomi, keamanan menjadi terbalik pengertiannya. Muhammadiyah perlu menegaskan jati dirinya, setelah tumbangnya Orde Baru tanggal 21 Mei 1998, setelah mendorong lokomotif reformasi Indonesia Muhammadiyah tidak boleh mundur, karena pekerjaan belum selesai kewajiban Muhammadiyah untuk terus mengawalnya. Tanwir memutuskan, merekomendasikan kepada Pimpinan Muhammadiyah mempersiapkan partai baru, sebagai wadah warga Muhammadiyah.
PAN BERDIRI
PAN dideklarasikan pada tanggal 23 Agustus 1998, sehari sebelumnya dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amien Rais mengundang Anggota PP Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah di seluruh Indonesia, tentang rencananya untuk mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN) yang akan ia pimpin, konsekwensinya Amien Rais mundur dari jabatan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan sebagai Pejabat sementaranya adalah Syafe’I Ma’arif.
Dalam pidato politiknya, selaku Ketua Umum PAN, Amien Rais meminta do’a restu dari warga Muhammadiyah agar dirinya diperkenankan mengemban amanah untuk memimpin partai yang mewakili kalangan lebih luas”Saya tahu warga Muhammadiyah adalah bagian dari kemajemukan itu dan saya percaya bahwa cita-cita membina masyarakat yang beradab, bermartabat, dan saling menghormati adalah selaras dengan gerakan Muhammadiyah”
MUHAMMADIYAH DAN PAN
Sebagai sebuah produk, PAN lahir dari buah pikir Muhammadiyah yang kemudian embrionya dirancang oleh tokoh Muhammadiyah, tokoh LSM, kelompok Islam Modernis, tokoh kampus, dan tokoh-tokoh lintas agama dan etnis, basis utama PAN pada waktu itu adalah warga Muhammadiyah. Sebagian besar DPW PAN pada waktu itu melibatkan tokoh-tokoh Muhammadiyah, meskipun tidak ada hubungan organisatoris sama sekali antara keduanya.
Seiring berjalannya waktu figur-figur yang lekat dengan Muhammadiyah mulai menghilang dari PAN, sejarah Masyumi dan Parmusi berulang, Muhammadiyah kembali kesarang mengabdi kepada agama dan masyarakat.
Pada Sidang Tanwir di Yogyakarta tahun 2008, kembali ada keinginan dari kalangan muda Muhammadiyah, supaya sidang tanwir di Yogya tersebut merekomendasikan sebuah partai yang baru mereka dirikan, agar menjadi partai resmi Muhammadiyah, tetapi dengan tegas peserta sidang tanwir menolak usulan tersebut, hal tersebut diperkuat lagi dengan Surat keputusan PP Muhammadiyah nomor : 160, januari 2009, tentang netralitas Muhammadiyah pada pemilu yang akan datang.
Muhammadiyah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik, Drs.H Rosyad Sholeh selaku sekretaris PP Muhammadiayah, sewaktu mengisi materi pengajian pimpinan Muhammadiyah di Masjid Al-Jihad beberapa waktu lalu menganalogikan kedekatan Muhammadiyah dengan kalimat : “Anda dekat kami dekat, Anda jauh kamipun jauh”.
MUHAMMAD AMIEN RAIS
Disingkat dengan MAR, dilahirkan di Surakarta 26 April 1944, anak dari Suhud Rais dan Sudalmiyah, anggota dan pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah. Riwayat pendidikan Amien Rais sejak TK sampai SMA semuanya dilalui di sekolah Muhammadiyah, di kota kelahirannya solo.
Jiwa kepemimpinan Amien Rais sudah diasah sejak ia terlibat dalam pandu hisbul wathan, banyak organisasi yang didirikan dan dipimpin langsung oleh beliau. Sebagai seorang ilmuwan banyak lontaran-lontaran gagasannya yang membuka cakrawala berfikir masyarakat.
Selama memimpin Muhammadiyah Amien Rais banyak melontarkan gagasan-gagasan brilian diantaranya adalah; tauhid sosial, zakat profesi, isu suksesi nasional, high politic.
I B R O H
Kalau kita amati langkah Muhammadiyah untuk menjadi pilar partai Masyumi, atau menjadi pelopor pembentukan Parmusi dan terakhir memutuskan untuk mendukung eksistensi Partai Amanat Nasional tidak lain adalah sebagai tuntutan sejarah bangsa ini yang memang memerlukan sumbangsih nyata dari Muhammadiyah. Masyumi didirikan karena pada saat itu partai Islam terserak menjadi kepingan kecil tidak berarti, bergabung dalam Masyumi, sehingga menjelmalah sebuah partai besar yang berpengaruh di Indonesia. Parmusi dibentuk sebagai reaksi dari kebijakan orde baru yang represif terhadap umat Islam, Muhammadiyah merasa perlu untuk membangkitkan harga diri umat dengan cara mendukung pendirian Parmusi. Sejak awal reformasi Muhammadiyah aktif menyuarakan tentang kondisi bangsa dan negara Indonesia yang mana oleh Buya Syafe’I Ma’arif diibaratkan kayu yang dimakan bubuk bagus diluar keropos didalam, atau dengan kata lain “rancak dilabuah”, Muhammadiyah wajib mendukung langkah-langkah reformasi yang dikomandoi oleh Prof.Dr.H.Amien Rais.MA, termasuk dalam pendirian Partai Amanat Nasional, di saat Muhammadiyah sudah tidak diperlukan lagi Muhammadiyah dengan ikhlas meninggalkan atau ditinggalkan, karena apa Muhammadiyah bisa ikhlas ? walaupun sudah berjuang untuk membesarkan partai tersebut, tetapi kemudian Muhammadiyah tidak mendapat apa-apa! Jawabnya adalah karena Muhammadiyah bukanlah sebuah partai politik yang dikejar oleh Muhammadiyah sesuai dengan semboyannya Amar Ma”ruf Nahyi Munkar atau dengan kata lain menyampaikan kebenaran dan mengajak mencegah untuk melakukan kejahatan. Jadi kalau nanti ada warga Muhammadiyah yang ingin mendirikan partai baru kemudian mengatasnamakan Muhammadiyah dikarenakan dia dipecat atau disingkirkan dari partai lamanya, dengan harapan pendirian partai barunya tersebut dapat mengurangi dukungan warga Muhammadiyah terhadap partai lamanya tersebut, perlu ditegaskan itu bukan cara Muhammadiyah, Muhammadiyah mendukung atau mendirikan sebuah partai bukan karena kepentingan pribadi-pribadi yang ada di Muhammadiyah tapi untuk kepentingan umat bangsa dan negara, penulis berkeyakinan pada suatu saat nanti Muhammdiyah akan kembali memainkan peran politiknya seperti waktu orla,orba dan masa reformasi, sesuai dengan tuntutan sejarah.
Demikianlah trilogi tulisan tentang ijtihad Muhammadiyah di ranah politik, suka atau tidak suka, benar atau salah, tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah, dalam setiap tindakannya selalu berlandaskan kepada Al Qur’an dan hadist, dan selalu memikirkan kemaslahatan umat yang dipimpinnya, mari kita ambil hikmahnya janganlah kita apatis dengan politik, sebab kalau politik dilandaskan kepada agama Insya Allah kita akan memperoleh manfaat, seperti yang dikatakan oleh M.Natsir ”politik merupakan salah satu alat untuk memperjuangkan agama Allah”. Tunaikanlah hak kita pilihlah partai dan orang yang kita yakini akan memperjuangkan kebenaran dan berani menjalankan nahyi mungkar, Insya Allah masyarakat dan negara akan makmur dan sentosa.

P A R M U S I

Oleh: Yosrizal Gavar

AWAL BERDIRI

Akibat dari pemberontakan PRRI, dengan pusat pemerintahannya di Bukittinggi, mayoritas pemimpin-pemimpin Masyumi dipenjarakan oleh rezim ORLA dan Masyumi dibubarkan. Setelah ORLA tumbang digantikan dengan ORBA, tokoh-tokoh Masyumi yang ditahan dibebaskan antara lain : M. Natsir, Buya HAMKA, Syafrudin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimejo, Muhammad Roem dan lain lain, sejak itu timbullah harapan agar Masyumi direhabilitasi dan diberikan hak hidup kembali.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh tokoh-ptokoh Masyumi untuk merehabilitasi nama Masyumi anatara lain dengan membentuk suatu badan yang bernama Badan Koordinasi Amal Muslimin (BKAM) dibentuk pada tanggal 16 Desember 1965.

Tetapi usaha-usaha yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Masyumi maupun oleh pihak lain yang bersimpati kepada Masyumi menemui jalan buntu, begitupun usaha dari tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk menegakkan kembali PII (Partai Islam Indonesia) dihalangi, Bung Hatta yang inigin mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII) pun tidak diizinkan fhobia akan kebangkitan partai Islam menjangkiti pemerintah.


PARTAI MUSLIMIN INDONESIA (PARMUSI)

Badan Koordinasi Amal Muslimin (BKAM) kembali bersidang, para pemimpin Islam tidak menyerah begitu saja, pada sidangnya tanggal 7 Mei 1967 dibentuklah panitia 7 (tujuh) yang diketuai oleh tokoh Muhammadiyah yaitu H. Faqih Usman, setelah melalui beberapa kali pertemuan dan perjuangan yang berat, akhirnya pemerintah memberikan izin untuk mendirikan sebuah parpol baru yang akan menampung aspirasi umat Islam, khususnya bwekas konstityuen Masyumi, dengan syarat mantan-mantan pemimpin Masyumi tidak boleh menduduki jabatan yang penting dalam tubuh partai Parmusi.

Parmusi disahkan berdirinya melalui Keputusan Presiden No. 70 tanggal 20 Februari 1968, kemudian diangkatlah sebagai ketua Umum Djarnawi Hadikusumo dan sekretaris umumnya Drs. Lukman Harun, keduanya adalah aktivis Muhammadiyah.


INTERVENSI DAN REKAYASA

Setelah resmi berdiri intervensi pemerintah terhadap partai Parmusi sangat kental aromanya, sewaktu diadakannya kongres partai yang pertama tanggal 4-7 November 1968 yang diadakan di Malang Jatim terpilihlah Muhammad Roem sebagai ketua, Muhammad Roem pernah menjadi Menteri Luar Negeri dan PM dari partai Masyumi, dalam perjuangan kemerdekaan sebagai Menteri Luar Negeri dan Juru Runding pemerintahan Republik Indonesia beliau terkenal dengan perjanjian Roem-Royen.

Reaksi pemerintah langsung datang, dengan tidak merestui Roem sebagai ketua Parmusi, sebagai salah seorang tokoh teras Masyumi, naiknya Roem dikhawatirkan akan membangkitkan Neo Masyumi, melalui sekretaris negara Alamsyah Ratuprawiranegara mengirimkan telegram kilat kepada kongres yang sedang berlangsung, bahwa pemerintah tidak merestui terpilihnya Muhammad Roem sebagai ketua Parmusi. Akhirnya kongres kembali menempatkan Djarnawi Hadikusumo dan Drs. Lukman Harun sebagai ketua dan sekretaris umum Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI).

Kepemimpinan Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun berlangsung tidak lama, dikarenakan pemerintah menilai duet kepemimpinan yang berasal dari Muhammadioyah ini dinilai oleh pemerintah tidak kooperatif dengan kepentingan penguasa, terjadilah pemaksaan kehendak disodorkanlah John (Jailani) Naro dan Imron Kadir, masing-masing sebagai ketua dan sekretaris PARMUSI, akibat dari pemaksaan ini Parmusi mengalami konflik yang tajam dikalangan internal partai.
Akhirnya pemerintah melalui kepresnya No.77/1970 tanggal 20 November 1970, kembali campurtangan dengan menunjuk tokoh Muhammadiyah yang dinilai kooperatif dengan pemerintah yaitu HMS Mintaredja, saaat itu menjadi menteri sosial dikabinet ORBA.

Intervensi dan rekayasa yang dilakukan penguasa membuat Parmusi lemahdan rapuh, sehingga tidak bisa mengembalikan kejayaan Masyumi dahulu. Dalam pemilu tahun 1971, Parmusi hanya dipilih kurang dari tyiga juta pemilih atau sekitar 5.36 persen saja.

Setelah pemilu tahun 1971 pemerintah mewajibkan partai untuk melakukan fusi partai politik atau restrukturisasi, penggabungan, penyedcrhanaan partai-partai politik di Indonesia Parmusi dan partai partai Islam lainnya berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).


DJARNAWI HADIKUSUMO

Djarnawi Hadikusumo dilahirkan di Kauman Yogyakarta, Ahad 4 Juli 1920, beliau putra dari Tokoh nasional dan Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo - Siti Fatimah.
Sejak awal Djarnawi telah didik di Muhammadiyah sejak dari Bustanul Athfal, Standaardschool Muhammadiyah, Kweekschool hingga terakhir di Madrasah Muallimin Muhammadiyah.

Djarnawi juga adalah salah seorang pendiri Perguruan Tapak Suci Putra Muhammadiyah, yang didirikan tanggal 31 Juli 1963. Sebagai salah seorang pendekar pencak silat beliau memang diakui akan kemampuannya. Pada awalnya Djarnawi belajar pencak silat di Kauman Yogyakarta, kemudian ketika ia bermukim di Sumatera, ia belajar pencak silat kepada Sutan Chaniago dan Sutan Makmun, dua orang pendekar bewsar di Sumatra Utara ketika itu.

Djarnawi Hadikusumo meninggal dunia pada tanggal 26 Oktober 1993 dalam usia 73 tahun.

EMPAT MACAM BELENGGU MANUSIA

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra : 70)
Makhluk manusia yang diinginkan oleh Allah adalah manusia yang bebas dan merdeka menurut asal penciptaannya, yang tidak diikat oleh rantai belenggu yang menjeratnya, sehingga ia dapat bebas mencapai cita-cita luhurnya sesuai dengan fungsi hidayah dan akal yang mengiringi pisiknya.
Cita-cita mulia manusia adalah menjadi insan kamil, menjadi hamba Allah yang shalih, yang mengabdikan dirinya pada kehendak Ilahi, menegakkan kebenaran, melawan kebathilan dan mewujudkan kehidupan yang adil, damai dan sentosa. KH. Ahmad Dahlan melalui gerakan Muhammadiyah berupaya mencapai cita-cita tersebut.
Kebanyakan manusia gagal mencapai cita-cita luhurnya itu, karena tidak berhasil melepaskan diri dari belenggu-belenggu yang mengikatnya. Manusia adalah makhluk yang aneh. Dihadapannya terletak ribuan kemungkinan atau pilihan yang dapat dilakukannya, dari yang paling hina sampai kepada yang paling mulia. Semakin berhasil manusia melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya semakin mudah ia mendekati cita-cita luhurnya. Sebaliknya, semakin erat ikatan belenggu-belenggu itu menjerat dirinya, maka semakin dalam pula kejatuhannya pada lumpur kenistaan.
Adapun belenggu yang menjerat manusia adalah:

PERTAMA - BELENGGU ALAM
Belenggu alam adalah belenggu yang paling mudah untuk mengatasinya. Manusia adalah makhkuk alam. Ia hidup di dalam alam oleh karena itu ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam tersebut. Jika udara sangat dingin, manusia akan merasa kedinginan. Jika udara terlampau panas manusiapun akan kegerahan karena panas. Bencana alam seperti gempa, banjir, longsor dan tsunami akan sangat mempengaruhi keterbatasan gerak gerik manusia.
Andaikan manusia terus menerus menuruti kehendak alam ia akan tergantung sepenuhnya pada alam bukan kepada yang punya alam, Kebebasan gerak menjadi hilang. Ia akan diperbudak oleh alam.
Manusia harus berhasil membebaskan diri dari belenggu alam. Jika musim panas diciptakan AC. Udara dingin diatasi dengan heater. Jika jarak jauh dibikin alat transportasi dan kalau ditempat domisili tidak memungkinkan lagi untuk hidup layak harus hijrah ke tempat lain.
Bagi orang yang beriman diharuskan mampu mengatasi belenggu alam misalnya dengan melemparkan selimut dikala dingin tengah malam untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah untuk melaksanakan shalat Tahajjud dalam rangka berusaha menjadi manusia yang mulia dihadapan Tuhannya.
Belenggu alam paling mudah untuk diatasi dengan ilmu pengetahuan dan kemauan yang kuat, alam karena alam diciptakan Allah untuk manusia dan manusia telah ditunjuk untuk menjadi khalifah di bumi ini.

KEDUA - BELENGGU TRADISI
Tradisi yang sudah turun-temurun pada hakekatnya juga menjadi penjara yang mengungkung gerak manusia. Pada umumnya manusia cenderung beranggapan bahwa apa yang sudah diwarisi nenek moyang merupakan kebenaran yang harus diterima dan dilestarikan walaupun sebahagian besarnya tidak logis.
Dalam masyarakat kita belenggu tradisi ini dapat diamati dengan jelas. Semua lapisan masyarakat kita sudah dibelenggu oleh berbagai tradisi yang sangat membebani serta irrasional itu. Contoh menanam kepala kerbau pada setiap peresmian jembatan atau gedung baru. Apa hubungan penanaman kepala kerbau dengan keselamatan jembatan dan kokohnya suatu bangunan yang didirikan ?. Pada hal jika jembatan dan gedung itu dibangun dengan konstruksi dan bahan yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar insya Allah tidak akan roboh. Tetapi walaupun ditanam seribu kepala kerbau jika dibuat asalan, bahannya dikorup pasti tidak akan tahan lama.
Manusia tidak lagi memohon keselamatan kepada Allah Yang Maha Pencipta tetapi justru meminta kepada makhluk yang lebih derajatnya jauh lebih rendah dari manusia.
Dalam Al-Qur`an Allah berfirman: Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenen moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ? (QS.Al-Maidah : 104)
Hanya manusia mukminlah yang mampu menjebol belenggu tradisi karena kekuatan Allah diatas segalanya. Ia Maha Besar, Maka Berkuasa dan Maha Suci.
Apa bila kita mengakui ada kekuatan lain selain kekuatan Allah yang ditakuti dan dimohon pertolongannya, dimanakah letak ayat yang sering kita baca setiap raka’at Shalat: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkau saja kami minta tolong. (QS.Al-Fatihah : 5)

KETIGA - BELENGGU MASYARAKAT
Kita hidup ditengah-tengah masyarakat manusia. Jadi tidak heran bila arus masyarakat sering menjerat kita dan sulit untuk menghindarinya. Dengan demikian mudah dipahami bahwa mengapa kebanyakan manusia tidak mau menentang apa yang menjadi arus masyarakat sehingga merekapun hanyut dibawa arus kebiasaan masyarakat tersebut.
Ternyata masyarakat dengan kuat sekali membelenggu orang lain misalnya soal pakaian terutama dikalangan kaum remaja putri karena wanita idolanya memakai pakaian modern yang memamerkan sebagian besar auratnya dan seronok maka jarang sekali wanita lain yang tidak ikut-ikutan cara berpakaiannya itu.
Hanya wanita muslimahlah yang mampu mengatasi belenggu masyarakat tersebut. Ia bertahan dengan berbusana muslimah mungkin ia termasuk minoritas, menantang arus dan bisa difonis tradisional.

KEEMPAT - BELENGGU EGO
Dibandingkan dengan belenggu alam, tradisi dan masyarakat maka belenggu ego adalah yang paling sulit diatasi. Ego, nafsu atau ananiyah kita pada hakekatnya dapat memenjarakan kita sendiri. Ego itu berada dalam diri, jadi yang memenjara dan yang dipenjara, yang membelenggu dan yang dibelenggu selalu bersamaan. Manusia yang sudah terbelenggu oleh egonya bahkan kemudian akan mempertaruhkan ego itu. Ia menjadi manusia yang tamak, loba dan serakah. Ia tidak puas dengan apa yang dimilikinya walaupun secara kasat mata dia sudah kaya raya.
Masyarakat yang manusianya sudah terbelenggu oleh ego akan menjadi masyarakat yang resah gelisah, hidup nafsi-nafsi, spirit kerja sama serta tolong menolong menjadi sirna bahkan bisa menjadi masyarakat yang exploitative. Pihak yang kuat memeras dan menindas yang lemah dan yang kaya menghisab si miskin sehingga kepincangan semakin lebar.

M A S Y U M I

Oleh: Yosrizal Gavar

Menyambut Pemilu tanggal 9 April 2009 nanti, kami akan mengajak pembaca untuk mengingat kembali ijtihad yang pernah diambil oleh Persyarikatan Muhammadiyah dalam bidang politik, yaitu Muhammadiyah pernah membentuk partai, berkecimpung dalam dalam partai baik sebagai anggota maupun sekedar pelopornya. Tulisan ini akan terdiri dari 3 bagian yaitu tentang Masyumi,Parmusi dan PAN.

MASYUMI BERDIRI

Pada masa Jepang, cikal bakal Masyumi adalah bermula dari didirikannya MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), didirikan oleh tokoh Muhammadiyah, NU dan SI, pada tanggal 21-9-1937. Mereka adalah : KH. Ahmad Dahlan, KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. Wahab Hasbullah (NU) dan W. Wondoamiseno (SI).
Di zaman Jepang MIAI dibubarkan karena dinilai merupakan suatu organisasi yang anti Jepang, pembubaran tersebut terjadi pada bulan Oktober 1943. kemudian sebagai gantinya dibentuklah Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI), Muhammadiyah dan NU tetap sebagai pendukung utamanya.
Pada masa kemerdekaan, Maklumat Pemerintah Indonesia No. X tanggal 3 November 1945, yang ditandatangani oleh Wakil Presiden Moh.Hatta, tentang anjuran membentuk Partai Politik, disambut hangat oleh kaum muslimin. Untuk itu dengan didukung oleh tokoh -tokoh Muhammadiyah, NU, PSII, dan PII (Partai Islam Indonesia).
Dalam muktamar yang diadakan di gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta pada tanggal 7-11-1945, dalam Muktamar inilah lahirnya Masyumi. Diputuskan dalam Muktamar tersebut bahwa Masyumi adalah satu - satunya partai Islam yang diakui dan yang diperjuangkan oleh umat Islam.

PARTAI ISLAM

Sebagai satu - satunya partai yang mewakili umat Islam, Masyumi menjadi partai besar di Indonesia, dalam pemilu regional yang diadakan di beberapa daerah di Jawa pada tahun 1946 dan 1951, Masyumi memperoleh mayoritas mutlak. Hal ini dapat terjadi karena Masyumi didukung oleh organisasi keagamaan yang menjadi anggota istimewa dan anggota organisasi partai Masyumi, yaitu Muhammadiyah, NU, Al-Jamiatul Wasliyah, PUII, Persis, Al-Irsyad, PUSA, PSII, PII, Al-Ittihadiyah, Mathla’ul Anwar dan Nahdatul Wathan, juga didukung oleh organisasi bersenjata Hizbullah dan Sabilillah dan organisasi bentukan Masyumi sendiri, sedangkan Ahmadiyah Lahore tidak diterima karena dianggap bukan bagian dari Islam.

GONCANGAN

Perpecahan tidak dapat dihindari karena godaan politik, menjadikan pilar-pilar penyangga Masyumi menjadi goyah, mereka menyatakan keluar dari keanggotaan Masyumi, dikarenakan tawaran pihak lain dirasakan lebih menguntungkan dan lebih menjanjikan.
PSII keluar dari Masyumi Juli 1947 dan membentuk partai sendiri, NU menyusul keluar pada bulan Mei 1952, keluarnya pilar-pilar yang penopang Masyumi sedikit banyak mengurangi kekuatannya, hingga sewaktu diadakan PEMILU pada 29 September 1955, Masyumi mendapatkan 57 kursi sejajar dengan PNI.
Goncangan yang paling besar adalah dibentuknya PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), dengan didukung oleh beberapa panglima militer seperti Sumatera Utara, Tengah, Selatan dan Sulawesi Utara, dan selatan tokoh-tokoh Masyumi seperti: M.Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Burhanudin Harahap dan tokoh dari PSI Sumitro Djojohadikusumo memproklamirkan berdirinya PRRI di Bukittinggi.
Di dalam PRRI Syafrudin Prawiranegara yang pernah menjadi presiden (pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), diangkat menjadi presiden PRRI, M. Natsir sebagai juru bicara, dan Burhanudin Harahap menjadi Menteri Pertahanan dan Kehakiman.

MUHAMMADIYAH DAN MASYUMI

Bubarnya Masyumi, yang menjadi wadah umat Islam termasuk Muhammadiyah dalam menyalurkan aspirasi politiknya, mengakibatkan timbulnya fikiran-fikiran supaya Muhammadiyash keluar daari Masyumi dan membentuk partai sendiri, yaitu partai Muhammadiyah.
HAMKA dalam bukunya Muhammadiyah - Masyumi memaparkan, bahwa usaha - usaha untuk memisahkan Muhammadiyah dari Masyumi telah berlangsung sejak lama, sebagai kekuatan utama dan anggota istimewa dalam Masyumi.
Pada Sidang Majelis Tanwir Muhammadiyah di Kaliurang tanggal 31 mei sampai 3 juni 1956, (majelis tanwir adalah majelis yang tertinggi setelah Muktamar), dibicarakanlah tentang jadi tidaknya Muhammadiyah menjadi partai politik atau dengan kata lain keluar dari Masyumi. Kami nukilkan ucapan Buya HAMKA dalam bukunya di atas yang merupakan pidato penyampaian pendapat dari HAMKA :

“Kalau Muhammadiyah dijadikan partai politik, saya akan keluar dari partai politik muhammadiyah itu!”, gambarkan dan kenangkanlah oleh saudara - saudara, bagaimana kesengsaraan dan kesusahan yang kita alami selama puluhan tahun, untuk menegakkan ukhuwah yang besar ini, sehingga kalau sekarang timbul permasalahan - permasalahan di daerah - daerah, sehingga timbul fikiran unatuk meruntuhkannya dengan tangan kita sendiri!!.
Dan kalau itu kejadian musuh akan bertepuk tangan dan bergembira karena maksudnya sudah tercapai, dan akan dicatat dalam sejarah Muhammadiyah sudah kena rayu!!!.
Tidak saudara - saudara Muhammadiyah tidak dapat dirayu!!!!. Dalam Muhammadiyah masih ada Rijaalun rasyid, masih ada Rijaalun rasyidin.
Yang mendirikan Masyumi adalah kita, bukan orang lain, mana yang belum beres kita bereskan, pemimpin -pemimpin Masyumi itu kita yang mengangkatnya kalau mereka melenceng kita luruskan, kalau masih melenceng kita berhentikan”.
Akhirnya setelah bersidang selama dua hari dua malam dicapai suatu kesepakatan bahwa Muhammadiyah tetap dalam Masyumi.
M. NATSIR
Beliau dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang Sumatera Barat, putra dari Sutan Saripado dan Khadijah.
Sebagai seorang ketua Masyumi yang pertama beliau telah menanamkan nilai-nilai tentang sebuah negara Islam, dalam bukunya Islam sebagai dasar negara, kecemasan M. Natsir terhadap sekularisme yang menafikkan agama, beliau berprinsip umat Islam harus mampu berpolitik, sebab melalui politik itulah nilai-nilai keislaman dapat diterapkan dalam kehidupan bernegara, tentu yang beliau maksudkan adalah politik yang Islami yang telah beliau contohkan dan lakukan.
M. Natsir wafat pada hari Sabtu, 14 Sya’ban 1413 H/6 Februari 1993, setelah sekian lama beliau menyandang stigma pemberontak PRRI dan pengkritik Orde Baru dengan Petisi 50 nya. Akhirnya datang juga pengakuan pemerintah, berdasarkan putusan sidang Dewan Tanda - Tanda Kehormatan RI pada tanggal 30 Oktober 2008 dan Kepres No. 041/TK/TH.2008 tanggal 6 November 2008 ”The Founding Father” ini memperoleh gelar Pahlawan Nasional. “Astagfirullah “ itulah petuah Rasulullah apabila kita menerima pujian dari orang lain.

KEUTAMAAN ‘ASYURA DAN BULAN MUHARRAM

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian pada bulan yang empat itu. (QS. At-Taubah: 36).
Sesungguhnya bulan Muharram adalah bulan yang agung dan bulan istimewa, bulan pertama dalam kalender Islam dan salah satu dari bulan haram (suci) yang Allah tegaskan dalam firman-Nya di atas,
Dari Abu Bakroh dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqo’idah, Dzulhijjah dan Muharram, serta Rajab Mudlor yang berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban.” (HR Bukhari ).
Bulan ini dinamakan Muharram karena ia adalah bulan yang diharamkan secara tegas oleh Allah sebagai mana firman-Nya tadi. Maksudnya: pada bulan-bulan haram tersebut, karena dosa pada bulan tersebut lebih berat dibanding dosa di bulan-bulan lain.
Ibnu Abbas menjelaskan Allah mengkhususkan empat bulan yang haram dan menegaskan keharamannya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shaleh dan pahala juga menjadi lebih besar.
Qatadah mengatakan : Sesungguhnya perbuatan zhalim pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada pada bulan-bulan lain. Meskipun zhalim, bagaimanapun juga merupakan dosa besar, tetapi Allah membesarkan balasan bagi pelakunya. (Tafsir Ibnu Katsir tafsir surat At Taubah 36).
Keutamaan Puasa pada bulan Muharam Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah bersabda, Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadlan adalah puasa pada “bulan Allah” yang namanya bulan Muharram. (HR Muslim nomor)
Kata bulan Allah menunjukan bahwa bulan tersebut memiliki keagungan karena disandarkan kepada Allah. Al-Qari mengatakan: Yang dapat dipahami secara langsung dari hadits ini adalah bahwa hal ini mencakup seluruh hari pada bulan Muharram.
Tetapi ada hadits dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa satu bulan penuh selain bulan Ramadlan. Maka hadits ini merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram tetapi tidak satu bulan penuh.
Ada pula hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw. memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Mungkin beliau baru mendapat wahyu tentang keutamaan bulan Muharram pada akhir hayatnya, sebelum sempat mengerjakan puasa pada bulan tersebut. (Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi).
Allah memilih waktu dan tempat menurut yang dikehendaki-Nya seperti memberikan keutamaan pada tempat dan waktu, yang kembali pada kemurahan Allah terhadap para hamba-Nya untuk melipatgandakan pahala bagi orang yang beramal, seperti keutamaan puasa Ramadhan dari puasa pada bulan-bulan lain, demikian pula ‘Asyura. Keutamaan yang Allah berikan ini menunjukkan kemurahan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba- Nya. Allah memilih beberapa pilihan dari makhluk-Nya sendiri, Allah telah memilih rasul (utusan) dari para malaikat sebagaimana Allah juga memilih rasul dari umat manusia, Allah memilih dzikir dari kalam-Nya, memilih masjid-masjid dari bumi-Nya, memilih bulan Ramadlan dan bulan-bulan haram dari seluruh bulan, memilih hari Jum’at dari seluruh hari dalam satu pekan, memilih lailatul qadar dari seluruh malam, maka agungkanlah apa yang telah Allah agungkan, karena menurut para ulama segala sesuatu itu memiliki kedudukan agung jika memang telah Allah berikan kedudukan agung padanya.
Puasa 'Asyura dalam sejarah, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Ketika Rasulullah saw. datang ke kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura beliau bertanya: “Apa ini ?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Nabi Musa pun berpuasa pada hari ini.”
Beliau bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada kalian, maka beliau berpuasa dan memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berpuasa juga.” (HR Bukhari)
Abdullah bin Abbas berkata: para sahabat mengatakan: “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani.” Rasulullah bersabda: Insya Allah pada tahun depan kita akan puasa pada hari (tasu'a) kesembilan. Ibnu Abbas mengatakan: “Sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah wafat.” (HR Muslim).
Puasa ‘Asyura sudah dikenal bahkan pada masa jahiliyah sebelum Nabi Muhammad saw. diangkat menjadi Rasul. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah beliau berkata: Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu sudah pernah mengerjakan puasa ‘Asyura. Imam Al Qurthubi mengatakan: Mungkin orang jahiliyah puasa tersebut dengan alasan mengikuti syari’at Nabi Ibrahim.
Dalam Hadits Riwayat Muslim : Puasa Asyura dapat menghapus dosa satahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Maka dari sekian banyak upacara, tradisi, budaya yang berkaitan dengan bulan Muharram, Asyura atau Suro (jawa), hanya Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura yang ada hubungannya dengan ajaran Islam.
Masalahnya adalah mengapa ummat Islam sekarang lebih cenderung melaksanakan budaya, tradisi dan upacara yang mungkin bertentangan dengan ajaran Islam sendiri ketimbang melaksanakan ajaran Rasulullah, Na'uzubillah.
Dalam sejarah Islam, setiap kemenangan dan keberhasilan diperingati dengan ibadah bukan dengan berfoya-foya, seperti latar belakang disunnahkannya puasa Asyura adalah peristiwa bersejarah pada 10 Muharam antara lain : 1. Allah menerima taubat Nabi Adam ; 2. Nabi Idris a.s telah diangkat ke langit ; 3. Berlabuhnya perahu Nabi Nuh a.s ; 4. Nabi Ibrahim diselamatkan dari api ; 5. Allah menerima taubat Nabi Daud ; 6. Allah mengangkat Nabi Isa ke langit ; 7. Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kekejaman Firaun ; 8. Allah menenggelamkan Firaun ; 9. Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan ; 10. Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s ;.
Hari Asyura 10 Muharam 65 H terjadi peristiwa pembunuhan Saidina Hussain cucu Rasulullah saw (anak Saidina Ali) dibunuh dengan kejam di Karbala di Iraq. Di Bengkulu diperingati dengan Upacara Tabot yang puncaknya jatuh pada 10 Muharram (1430 H). Perlu diingat bahwa Tabot bukan ajaran Islam tetapi mungkin termasuk budaya Islam, Wallahu a'lam.

‘AISYIYAH

Oleh: Yosrizal gavar

“Dan orang-orang yangt beriman laki-laki dan perempuan sebagian dari mereka(adalah), menjadi penolong bagi sebagian yang lain.Mereka menyuruh (mengerjakan)yang ma’ruf mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepad Allah dan Rasulnya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Taubah (9):71)


Yogyakarta tahun 1800 sampai dengan 1900-an pandangan masyarakat pada waktu itu kaum wanita tidak diperbolehkan keluar rumah, harus tinggal di kamar atau di dapur, kaum perempuanpun tidak perlu bersekolah, karena dipandang hanya akan menurunkan kesusilaan, karena itu pendidiikan yang diterima hanyalah pendidikan agama dan keterampilan-keterampilan yang dapat dikerjakan di rumah.
KH.Ahmad Dahlan setelah mendirikan Muhammadiyah, memperhatikan keterbelakangan kaum wanita pada waktu itu, bersama dengan istrinya Siti Walidah beliau mengadakan pengajian khusus perempuan. KH.Ahmad Dahlan selain mengajarkan Al Qur’an dan pelajaran agama, juga mengajak kepada para muridnya untuk mulai berfikir tentang kemasyarakatan.

Setelah berjalan sekian lama pengajian anak-anak perempuan ini diberi nama dengan “Sopo Tresno” yang artinya siapa suka atau siapa cinta, dalam sekian waktu pengajian ini hanyalah sebuah pengajian biasa tidak merupakan gerakan.

Kemudian timbullah dalam fikiran KH.Ahmad Dahlan untuk lebih mengembangkan pengajian ini. Maka diadakanlah pertemuan di rumah KH.Ahmad Dahlan yang dihadiri oleh KH.Mokhtar, Ki Bagus Hadikusuma, KH.Fakhrudin, dan pengurus Muhammadiyah yang lain. Ada satu usulan agar organisasi ini diberi nama FATIMAH, tetapi usul ini tidak diterima oleh rapat. Kemudian oleh KH.Fakhrudin diusulkanlah nama AISYIYAH usulan ini diterima oleh yang hadir pada waktu itu, sehingga berubahlah nama “Sopo Tresno” menjadi ‘AISYIYAH.

Setelah nama ‘Aisyiyah disetujui secara aklamasi, lalu diadakan peresmian pada tanggal 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan 19 Mei 1917 M, bersamaan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal administrasi dan organisasi ‘Aisyiyah dibimbing oleh KH.Mokhtar, sedangkan dari sisi keagamaan dan ruh Islam langsung oleh KH.Ahmad Dahlan, sebagai bekal perjuangan sebagai berikut :

1. Dengan ikhlas hati menunaikan tugasnya sebagai wanita Islam, sesuai bakat dan kecakapannya, tidak ingin disanjung, dan tidak mundur selangkah karena celaan.
2. Penuh keinsafan bahwa beramal itu harus berilmu.
3. Jangan mengadakan alasan yang tidak dianggap sah oleh Allah SWT.
4. Membulatkan tekad untuk membela kesucian Islam.
5. Menjaga persaudaraan dan kesatuan sekerja dan seperjuangan.

Setelah menjadi ‘Aisyiyah gerakan perempuan ini semakin sistimatis dan terprogram, selain mengadakan kursus-kursus, ‘Aisyiyah juga mengirimkan mubalighat-mubalighat ke pelosok-pelosok kampung pada bulan puasa untuk melaksanakan shalat tarawih, mengadakan perayaan hari besar agama Islam, mengadakan keterampilan-keterampilan kepada para perempuan.

Pada tahun 1922 ‘Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah, menjadi bagian perempuan Muhammadiyah, selanjutnya gerakan ‘Aisyiyah bersinergi dengan gerakan dan amal-amal yang dilakukan Muhammadiyah.

PERANAN SITI WALIDAH
(Nyai AHMAD DAHLAN)

Beliau dilahirkan di Yogyakarta tahun 1872 M, di tengah-tengah keluarga santri yang taat beragama. Ayahnya bernama H.Muhammad Fadlil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Hasan Pengkol bin Kiai Muhammad Ngraden Pengkol. Sementara ibunya dikenal dengan panggilan Nyai Mas.

Setelah menikah dengan KH.Ahmad Dahlan, beliau mulai aktif mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh suaminya tersebut, diantaranya pada tahun 1914 mendirikan kelompok pengajian perempuan “Sopo Tresno”. Nyai Dahlan tercatat sebagai salah seorang perempuan pertama di Indonesia yang berjuang dalam pergerakan wanita.

Setelah berdirinya ‘Aisyiyah, Nyai Dahlan secara serius berkecimpung dalam mengembangkan ‘Aisyiyah, beliau pernah diangkat sebagai ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada tahun : 1921-1926, dan 1930.

Kegiatan yang dilakukan Nyai Dahlan sangatlah padat dan sibuknya. Ia rajin berkeliling uintuk berdakwah dan membimbing anggota ‘Aisyiyah di daerah-daerah, tetapi walaupun begitu tugas dan fungsinya sebagai istri dan ibu rumah tangga tidaklah menjadi terbengkalai dan dilalaikannya.

Suatu ketika datanglah murid dari KH.Ahmad Dahlan menemui Nyai Dahlan, murid tersebut meminta kepada beliau agar meminta kepada KH.Ahmad Dahlan untuk beristirahat dikarenakan kesehatannya yang sudah menurun. Pesan tersebut disampaikannya kepada KH.Ahmad Dahlan. KH.Ahmad Dahlan kecewa mendengar permintaan istrinya supaya ia berhenti dari kegiatannya, bagi Ahmad Dahlan berhenti dalam dakwah berarti berhenti pula dalam beramal, padahal ia ingin terus bekerja dan beramal. Dengan menitikkan air mata Nyai Dahlan mengatakan, bahwa ia tidak bermaksud untuk menghalangi suaminya beramal, tetapi untuk memperhatikan kesehatannya.

Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan pulang ke rahmatullah pada hari jum’at tanggal 31 mei 1946 pukul 13.00 WIB, dimakamkan di belakang masjid Besar Kauman Yogyakarta.

Atas jasa-jasanya terhadap bangsa, negara khususnya, memajukan kaum perempuan di Indonesia, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan, melalui SK Presiden RI No.042/TK/Tahun 1971 tanggal 22 September 1971.

(Sumber bacaan Ensiklopedi Muhammadiyah terbitan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP.Muhammadiyah; 2005)

PEMANFA’ATAN HARTA WAQAF

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

Pengertian Waqaf
Dalam bahasa ‘Arab kata Waqaf dari segi etimologi berarti menahan, sedangkan dari istilah agama berarti menahan harta dan memberi manfa’atnya dijalan Allah. Maksudnya menahan pokok suatu harta kekayaan untuk tidak dimiliki oleh siapapun, sedangkan hasil atau manfaatnya untuk kepentingan ibadah sesuai dengan ajaran agama Islam.

Komplikasi Hukum Islam pasal 215 ayat (1) mengartikan waqaf sebagai perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan tuntunan Islam.

Hukum Waqaf
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, waqaf hukumnya Sunnat atau sesuatu yang dianjurkan. Dasar hukumnya antara lain: Firman Allah: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imran : 92)

Dalam Hadits Riwayat Muslim Dari Abu Hurairah Rasul bersabda: “Apabila telah meninggal salah seorang manusia maka putuslah semua amal ibadahnya kecuali tiga hal yaitu Shadaqah jariyah (Waqaf), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang selalu mendo’akan orangtuanya.

Waqif
Waqif adalah orang, kelompok atau badan hukum yang mewaqafkan barang atau harta.

Barang atau benda yang diberikan seyogianya disesuaikan dengan kebutuhan. Apa gunanya memberikan cincin emas bermata berlian kepada orang yang tidak punya jari.


Nazir
Nazir adalah yang diserahi tugas mengurus harta waqaf, harus memelihara sesuai dengan maksud orang yang berwaqaf, mempergunakan sebagai mana mestinya dengan niat taat kepada Allah dan berusaha memperbanyak faedah dari barang waqaf itu.

Mauquf
Mauquf adalah barang atau harta yang diwaqafkan dengan niat karena Allah.

Pemanfaatannya
Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar, mengenai waqaf ‘Umar bin Khattab berupa sebidang tanah yang tidak dapat difungsikan sebagai mana mestinya menurut keinginan waqif. Sebidang tanah ini tidak dapat dikelola secara optimal karena tidak produktif dan lokasinya kurang strategis. Namun jika dikelola menurut ilmu dan pengalaman nazir, diyakini dapat mendatangkan manfaat, sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat.

Sementara Al-Quran mengajarkan agar ummat Islam tidak berlaku mubazzir atau tidak memanfaat barang sesuai dengan kebutuhan, sebagai mana firman Allah : Artinya : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’ : 27).
Untuk mengatasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut di atas dapat digunakan perinsip mashlahatul mursalah yaitu perinsip pilihan terhadap alternatif terbaik atas berbagai kemungkinan keburukan yang akan timbul.

Amalan waqaf termasuk Amal Jariyyah yang utama dalam ajaran Islam. Orang yang berwaqaf akan memperoleh ganjaran (pahala) baik ketika ia masih hidup bahkan setelah ia meninggal dunia jika harta waqaf tersebut masih dapat diambil manfaatnya untuk kepentingan umum sesuai dengan ajaran Islam. Jika suatu saat sifat manfaat waqaf tersebut hilang, maka ganjaran waqif (orang yang berwaqaf) dengan sendiri akan terhenti pada saat hilangnya manfaat harta yang diwaqafkan tersebut.

Untuk mengatasi berbagai kemungkinan di atas, agar harta waqaf tetap dapat memenuhi fungsinya maka dapatlah dibenarkan jika harta waqaf tersebut diubah oleh Nazir. Perubahan tersebut baik diubah bentuknya atau dijual dan dibelikan harta atau benda lain dengan tujuan agar harta waqaf tersebut dapat memenuhi fungsinya kembali sebagai harta waqaf. Perubahan demikian juga dapat dibenarkan dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang lebih besar.

Misalnya suatu harta waqaf berbentuk sebidang tanah ternyata tempatnya kurang strategis. Oleh karena itu bila nazir menilai pemindahan tersebut harta waqaf dapat berfungsi secara maksimal sesuai dengan kebutuhan dibolehkan, atau nazir nilai manfaat dan fungsi waqaf tersebut tidak dapat dicapai secara maksimal maka nazir dapat memindahkan tanah waqaf tersebut dengan cara yang benar (mungkin dengan cara menjual atau menukarnya) ketempat lain yang lebih staregis dan mendatangkan manfaat. Dengan pemindahan tersebut diharapkan harta waqaf di atas dapat berfungsi dan bermanfaat secara maksimal dan ganjaran si waqif pun akan lebih besar dan terus menerus.

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah jilid 14 menulis.
Pertama,
Penggantian karena kebutuhan, misalnya karena macet, maka ia dijual dan harganya dipergunakan untuk membeli apa yang dapat menggantikannya. Seperti kuda yang diwaqafkan untuk perang. Jika kuda itu tidak mungkin lagi digunakan untuk perang, karena sakit-sakitan atau sudah terlalu tua untuk perang, maka kuda itu dapat dijual dan hasil penjualannya dapat dipergunakan untuk membeli sesuatu yang dapat menggantikannya.

Dan Masjid misalnya. Bila tempat disekitarnya rusak, maka ia dipindahkan ketempat lain atau dijual dan harganya dipergunakan untuk membeli apa yang dapat menggantikannya. Apabila tidak mungkin lagi memanfaatkan waqaf menurut maksud waqif maka ia dijual dan harganya dipergunakan untuk membeli apa yang dapat menggantikannya. Dan bila Masjid rusak dan tidak mungkin diramaikan lagi, maka tanahnya dijual dan harganya dipergunakan untuk membeli apa yang dapat menggantikannya. Ini diperbolehkan, karena bila yang pokok (asal) tidak dapat mencapai maksud, maka diganti oleh yang lainnya.
Kedua,
Penggantian karena kepentingan yang lebih kuat. Misalnya menggantikan hadiah dengan apa yang lebih baik darinya. Dan Masjid, bila dibangun Masjid lainsebagai gantinya, yang lebih layak bagi penduiduk kampung , maka Masjid yang opertama itu dijual. Hal ini dan yang serupa dengannya diperbolehkan menurut Ahmad dan lain lain.

Imam Ahmad berdalil bahwa ‘Umar bin Khattab memindahkan Masjid Kufah ke tempat yang baru dan tempat yang lama itu dijadikan pasar bagi penjual tamar.

Jadi Menurut nash, Atsar dan qiyas diatas menghendaki kebolehan mengganti harta waqaf agar lebih bermanfaat sesuai dengan ilmu dan pengalaman nazir serta disesuaikan dengan kebutuhan ummat Islam secara khusus. Jangan sampai harta benda waqaf itu bertimbun menjadi kanaz (timbunan) yang terkutuk.
Wallahu A’lam.

H A T I

Oleh: Yosrizal gavar

Hati adalah cerminan jiwa manusia kalau ingin mengetahui hati seseorang perhatikanlah raut wajahnya, isi pembicaraannya dan gerak lakunya itulah hati cerminan jiwa, setelah dapat kita memahami hati seseorang dapat pula kita raba niatnya. Untuk jelasnya coba kita renungkan sabda Rasullullah SAW berikut ini: “Innallaha layamzhuru ilaa shuwarikum walakim yanzhuru ilaa quluu bikum”
Sesungguhnya Allah tak akan memperhatikan rupamu, potonganmu yang bagus atau wajahmu yang elok Allah hanya memperhatikan hatimu.

Maksudnya adalah, apa yang bermain di dalam hati seseorang itulah yang dinilai oleh Allah SWT, yaitu niatmu, sengajamu, keinginanmu yang betul-betul bersih datang dari lubuk hati yang paling dalam Allah mengetahui itu semua.
Kenapa pada zaman 45 dahulu para pejuang kita sangat sangat pemberani tidak takut terhadap meriam, senapan mesin, walau para pejuang kita menghadapinya hanya dengan sepotong bambu yang diruncingkan, itu tak lain karena hati kita bersih, niat kita murni, sehinga sedikitpun tidak ada rasa takut dalam diri walaupun setiap saat maut mengintai diri. Tetapi cobalah kita lihat sekarang kita seringkali menjadi takut melakukan sesuatu perbuatan yang kita anggap benar, belum melangkah sudah surut, belum pergi sudah kembali, kenapa ini bisa terjadi ? Apakah sudah berobah niat kita? Apakah hati kita sudah bercabang ?

Hati yang diikuti oleh perbuatan sudah tidak berani lagi menyatakan mana yang hak dan mana yang bathil, hati sudah terselubungi oleh nawaitu-nawaitu yang bertentangan dengan kebenaran yag diajarkan agama kita, apakah politik kamar kecil (WC) sudah menjangkiti kita, dimana kalau kita berada di luar kita tidak tahan dan mengatakan bahwa bau WC sangat menusuk hidung, tetapi pabila kita berada di dalam kita tahankan baunya hati kita berarti sudah kotor !

Hati itu perlu dipelihara dan selalu dijaga kebersihannya, jangan takabur, jangan merasa diri lebih baik dari orang lain; jangan suka menapik dada meremehkan orang lain, kalau hati bersih ketakutan hilang dan langkah tak akan terhalang, tetapi kalau ternyata ada dalam hati kita sifat-sifat di atas itu pertanda hati kita sedang sakit, sakit harus segera diobati dalam satu hadist yang dijadikan nyanyian oleh Opick dengan judul Tombo Ati atau sifak qalbu atau obat hati disebutkan ada 5(lima) macam obatnya :
· Membaca Qur’an dan memahami maknanya
· Mendirikan sholat malam
· Berkumpul dengan orang shaleh
· Perbanyak berpuasa sunat
· Dzikir malam dirutinkan
Kalau kita mengerjakan salah satunya saja Insya Allah akan terobati hati kita apalagi kalau kelimanya kita kerjakan. Al Qur’an mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar itu janji Allah, mendirikan sholat malam Rasulullah telah mencontohkan, pepatah mengatakan duduk seorang bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang, maksudnya tentu berkumpul dengan orang shaleh, mengendalikan nafsu dengan berpuasa, dzikir malam Allah sangat menyukai dan menantikan.

Kalau kita di Rejang Lebong ini sebagai penganut agama Islam mengharapkan ajaran Islam tegak janganlah mengharapkan kepada pemerintahan saja. Bupati Rejang Lebong Bpk. H.Suherman, dalam kata sambutannya dalam rangka Miladiyah yang ke 97 mengatakan bahwa: pemerintah daerah sudah berusaha memberantas maksiat, judi. Beliau mencontohkan dengan Lapangan setia Negara yuang sekarang sudah terang benderang, itu dimaksudkan untuk mengurangi bahkan kalau bisa meniadakan perbuatan maksiat, tetapi kita saksikan masih saja ada yang memanfaatkan celah-celah kegelapan baik muda-mudi maupun orang-orang tua.

Sekarang kita gerakkan amar ma’ruf nahi mungkar! Kita bacakan firman Allah dan kita sampaikan hadist-hadist nabi! Tetapi hati kita adakah menyetujui dan membenarkannya? Wajib kita berniat dalam hati kita dulu baru Allah akan meridhoi.

Kasus BLBI adalah contoh yang paling hangat sekarang ini. Jangankan untuk menangkap dan mengadili kreditor-kreditor tersebut malahan penyidiknya yang ditahan, niat di hati sudah berubah dan bercabang. Marilah kita bersihkan hati kita, mari kita benahi niat kita :

Untuk apa kita mempunyai kekuasaan
Untuk apa kita mengerjakan kebaikan
Untuk apa kita mempunyai keturunan
Untuk apa kita mempunyai kekayaan.

Perang dingin dalam hati
Hati berpengaruh terhadap jiwa, kalau jiwa mengalami kekosongan berarti hati kita juga kosong, hati yang kosong sarang iblis berkembang melancarkan jurus dan rayuannya seseorang berkata : “Aku tahu bahwa itu perbuatan yang jahat, melanggar perikemanusiaan, menerjang peraturan agama. Padahal aku ingin seperti temanku yang ku lihat bahagia walaupun ia mengerjakan perbuatan yang dilarang agama…

Timbulah perang dingin di dalam hati orang itu, nafsu jahat berperang dengan nafsu baik, karena orang itu tampaknya silau dengan kesuksesan temannya tadi, maka menanglah nafsu jahat tadi, imannya runtuh telah tergadai dengan nafsu jahat yang membawa dirinya kejurang kehancuran. Al-Hadist telah mengatakan “Bahwa yang dikatakan orang beriman adalah orang gembiranya timbul karena telah melakukan perbuatan baik, dan bersedih hati, lantaran perbuatannya tidak baik.”


Sekehendak hati
Memang enak nian, hati seperti ini, mereka sangat leluasa menurutkan kehendak hati dan nafsunya, walaupun jalan yang ditempuhnya ilegal. Di dalam memperjuangkan yang diinginkannya, mereka acuh tak acuh terhadap milik orang lain, manakala ia menginginkan mereka rampas, rampok, mereka garong, mereka paksa untuk menyerahkan kepadanya, tidak lupa disertai ancaman kepada orang lain, ia lupa perbuatan jahat tidak bisa abadi selamanya, firman Allah Mengatakan: “Dan katakanlah, wahai Muhammad, setelah datang kebenaran, lenyaplah kejahatan. Sesungguhnya kejahatan itu musti musnah adanya”.

Dengan memperhatikan firman Allah di atas tadi, seharusnya kita tidak berkecil hati, bahkan sebaliknya; percayalah bahwa kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Biarkanlah orang menyelubungi kebenaran dengan fitnah dan kebohongan, biarlah orang melumuri intan berlian dengan kotoran, akan memancar jugalah cahaya kemilaunya.

IBADAH HAJJI

Oleh: Drs. H. Aprizaldi

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran 93)

HAJI
Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ibadah tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.



DEFINISI
Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut istilah syara', haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah yang telah dicontohkan Rasulullah saw. sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.

Latar belakang Ibadah Haji ini juga didasarkan pada Ibadah Nabi Ibrahim as seperti Thawaf. Sa'I adalah kegiatan istri kedua Nabi Ibrahim ketika mencari air untuk anaknya Nabi Ismail as. Sementara Wukuf di Arafah adalah Ibadah untuk mengenang tempat bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa.

JENIS IBADAH HAJI
Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis Ibadah Haji yang ingin dilaksanakannya. Adapun jenisnya adalah :
1. Haji Ifrad, berarti menyendiri. Yaitu menyendirikan Ibadah Hajji dengan Ibadah Umrah dengan cara mendahulukan Ibadah Haji kemudian baru melaksanakan Ibadah Umrah.
2. Haji Tamattu', berarti bersenang-senang atau bersantai santai dengan melakukan Umrah terlebih dahulu di bulan bulan haji. Kemudian mengenakan pakaian Ihram lagi untuk melaksanakan Ibadah Haji, ditahun yang sama. Tamattu' dapat juga berarti melaksanakan Ibadah didalam bulan-bulan serta didalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal. Haji inilah yang paling banyak dilaksanakan oleh jema'ah Haji asal Indonesia.
3. Haji Qiran, berarti menyatukan atau menggabungkan. Yang dimaksud disini adalah berihram untuk melaksanakan Ibadah Haji dan umrah. Haji Qiran dilakukan dengan tetap berpakaian Ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib Haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu yang sangat lama.

KEGIATAN IBADAH HAJI TAHUN 1429 H / 2008 M
Berdasarkan Kalender tahun 2008 dapat kita perkirakan bahwa :
1. Sebelum 8 Dzulhijjah umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
2. 8 Dzulhijjah (6 Desember 2008 M) ,Persiapan untuk Wuquf sebagai puncak Ibadah Haji dan persiapan pemberangkatan ke padang ‘Arafah
3. 9 Dzulhijjah (7 Desember 2008 M), pagi harinya semua jamaah Haji pergi ke ‘Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan Ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang.
4. 10 Dzulhijjah (8 Desember 2008 M), Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam (Mabid) di Muzdalifah. Setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan Ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali sebagai simbolisasi mengusir setan dan Tahallul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.
5. 11 Dzulhijjah (9 Desember 2008 M), melontar ke tiga Jamarat (Ula. Wustho dan ‘Aqobah)
6. 12 Dzulhijjah (10 Desember 2008 M), melontar ke tiga Jamarat (Ula. Wustho dan ‘Aqobah). Bagi yang Nafar Awal kembali ke Makkah untuk melanjutkan rukun Haji.
7. 13 Dzulhijjah (11 Desember 2008 M), bagi yang Nafar Tsani dianjurkan melontar Jamrah pagi hari, melontar ke tiga Jamarat (Ula. Wustho dan ‘Aqobah) dan kembali ke Makkah untuk melanjutkan rukun Haji.
Sebelum pulang ke negara masing-masing, jamaah melaksanakan Thawaf Wada' (thawaf perpisahan).

LOKASI UTAMA IBADAH HAJI
Makkah, Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram dalam Ibadah Haji. Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup Ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan Thawaf Haji
Ka'bah, Adalah sebuah bangunan mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti sholat. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.
Dimensi struktur bangunan ka'bah lebih kurang berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali 12,62m. Juga disebut dengan nama Baitullah. Lokasi Ka'bah : 210 25’ 21.2" Lintang Utara 0390 49’ 34.1" Bujur Timur Elevasi 304 meter (ASL). Adapun cara sederhana untuk melakukan penyesuaian arah Kiblat adalah pada saat-saat tertentu dua kali dalam setahun matahari tepat berada di atas Ka'bah (Makkah). Maka jika mata telanjang dapat melihat ke matahari, dan amenarik garis lurus dari matahari memotong ufuk / horizon tegak lurus, kita akan mendapatkan posisi tepat ke arah Kiblat tanpa melalukan perhitungan sama sekali. Asal kita harus tahu kapan matahari berada tepat diatas Ka'bah. Tiap tahun matahari berada pada posisi tepat di atas Ka'bah pada tanggal 28 Mei jam 16 : 18 WIB dan tanggal 16 Juli jam 16 : 27 WIB. Setiap tahun. Masya Allah.
Arafah, (21 KM dari Mekkah) Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya Haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim Haji, daerah ini tidak dipakai.

Mina, (7 KM dari Mekkah) Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan Nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.

Muzdalifah, ( 12 KM dari Mekkah) Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

Medinah, Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad saw. Dimakamkan yaitu di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam rangkaian Ibadah Haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya melalui transport darat lebih kurang 450 km dan 330 transport udara.

TAJDID

Oleh: Yosrizal Gavar

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membangkitkan untuk umat ini atas pangkal tiap–tiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui bagi mereka (Hadist dirawikan oleh; Dawud, Al Baihaqi, Al Hakim, Abu Hurairah).

Hadist di atas menjelaskan kepada kita bahwa tiap – tiap seratus tahun atau satu abad Allah akan menimbulkan seseorang untuk memperbaharui kembali ke jalan Allah.
Tajdid artinya : memperbaharui sesuatu, dan orang yang memperbaharui tersebut dinamakan mujadid. Ada juga orang yang mengartikannya dengan reformasi, reformis adalah sebutan untuk orang yang menjalankan reformasi.
Dalam kaitan ini ada sebuah hadist lagi yaitu berbunyi “Perbaharuilah iman kamu”. Kalau kita pertalikan kedua hadist di atas maka akan bertemulah kita dengan “Sesungguhnya Allah Ta’ala membangkitkan untuk umat ini atas pangkal tiap-tiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui bagi mereka”, maka untuk itu perbaharuilah iman kamu .
Jadi jelaslah bagi kita bahwa kesadaran kita dalam beragama harus terus kita perbaharui, keimanan harus terus kita asah dan tingkatkan, jangan “jumud”, jangan dibiarkan beku, jangan sampai bobrok.
Tajdid mengajak orang untuk kembali melihat sunnah Nabi SAW, berusaha dengan sekuat tenaga dan fikiran kita untuk melaksanakannya. Tetapi sayang seribu kali sayang sekarang ini kita lihat, banyak sekali orang yang berusaha memperbaharui agama Islam dengan cara membolehkan sesuatu persoalan yang jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT (dalam Al Qur’an), sekali lagi Mujadid adalah orang yang menghidupkan kembali sunnah dan mengajak untuk melaksanakannya, setelah tertimbun oleh perbuatan-perbuatan ingkar, bid’ah yang datang sesudah wafatnya Rasulullah SAW.
Abdullah Bin Mas’ud mengatakan : ”Bagaimana sikap kalian bila datang waktunya negeri diserang suatu fitnah, yang anak-anak kita terdidik dengannya, dan orang tua telah tua dengan dia, perbuatan bid’ah telah dijadikan sunnah, dan kalau ditegur mereka marah dan mereka katakan sunnah telah berubah”
Lalu orang bertanya kepada beliau “Kapan terjadinya hal itu, dan apa tandanya?” lalu beliau menjawab “Hal itu terjadi kalau telah banyak yang pandai membaca, tetapi sedikit yang pandai memahamkan, banyak yang memegang kuasa, tetapi sedikit yang dapat dipercaya, dan orang-orang yang mencari keuntungan duniawi dengan berselubung amal akhirat, dan orang yang memperdalam agama bukan untuk agama”.

PANGKAL SERATUS TAHUN
Sejak zaman Bani Umayyah terjadi penyelewengan secara besar-besaran, khalifah sudah tidak mengikuti lagi kearifan dan lurusnya khalifatur rasyidin, Khalifah Mu’awiyah menjadikan khotbah jum’at sebagai ajang mencaci maki Syaidina Ali bin Abi Thalib dan memasukkan kutukan terhadap Ali di setiap khotbah keduanya. Kemudian Allah timbulkan Umar bin Abdul Aziz, beliau melakukan tajdid, beliau kembalikan hakikat khotbah jum’at dengan nasehat dan do’a menyerukan kepada keadilan dan kebaikan dunia akhirat. Imam Syafe’I menentang usaha khalifah Al Ma’un yang zalim dari bani Abbas. Contoh lain : Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaludin Al Afghani, Sayid Qutb dan lain-lain.

MUHAMMADIYAH GERAKAN TADJID
Muhammadiyah berdiri sewaktu Indonesia masih dalam penjajahan (1912), bisa dibayangkan keterbelakangan yang melingkupi masyarakat Indonesia pada waktu itu. Muhammadiyah tergerak untuk melakukan perubahan dan pembaharuan seperti termaktub dalam tujuan awal berdirinya Muhammadiyah sendiri yaitu :
1. Menyebarluaskan pengajaran Kanjeng Nabi SAW kepada penduduk Bumi Putera
2. Memajukan hal agama kepada anggota-angotanya.
Jadi jelaslah bahwa Muhammadiyah mengajak kembali ke Sunnah Nabi Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW sendiri mengatakan “tidak akan tersesat kamu selama berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Jangan menghalalkan yang sudah diharamkan. Jangan membolehkan hal yang sudah dilarang. Jangan mengerjakan hal yang tidak diperintahkan. Insya Allah Muhammadiyah tidak akan tersesat dan tidak akan pula menyesatkan.

Nashrun Minallah Wafathun Qariib

MEMPERERAT SHILATURRAHMI

Oleh: Drs. H. Aprizaldi


Artinya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS. Ali Imran : 112)

Kalau ingin menyaksikan wajah cerah sumringah berhias senyum rekah dan bibir selalu memuji Asmaul Husna, berkelilinglah pada Hari Raya ini. Dijamin akan sulit bertemu dengan wajah suram, muram dan tanpa senyum. Yang dijumpai hanyalah wajah cerah, senyum dan ceria, hati yang bahagia, pandangan yang bersahaja sambil berucap Al-Hamdulillah dan tangan yang selalu ingin bersalaman.



Itulah salah satu keistimewaan Hari Raya Idul Fithri termasuk pada bulan Syawal tahun 1429 H ini yang dihayati dengan bersyukur dan bergembira.
Pada Hari Raya Idul Fithri ini secara spontan terjadi proses mengunjungi, bertegur sapa dan bershilaturrami satu sama lain.
Dalam bentuk yang lebih formal, shilaturrahmi diwujudkan dalam Syawalan atau Halal Bi Halal yang selalu dihiasi dan dilengkapi dengan sarapan yang lezat dan nikmat baik kebutuhan fisik maupun mental terkadang juga dimeriahkan dengan hiburan musik yang kadang kala sulit membedakan mana perintah dan mana larangan.
Pada seputar hari lebaran dan ini terjadi tiap tahun kita selalu menyaksikan keajaiban kemanusiaan, yang muncul di kalangan ummat Islam, semangat bershilaturrahmi yang begitu kuat mengalahkan rintangan apapun.
Mereka yang tidak mudik menyempatkan diri keliling kampung atau bahkan keliling kota, bershilaturrahmi dengan tetangga, kerabat dan saudara. Mereka yang masih memiliki saudara atau orang tua di kampung, berusaha dengan segala daya dan upaya untuk mudik. Mereka bertemu, berjabat tangan untuk saling memaafkan sekaligus mengentalkan kembali persaudaraan.
Peristiwa rekonsiliasi (ishlah) kultural ini terjadi begitu saja tanpa ada seorang pun, baik tokoh agama maupun penguasa, yang memaksakannya. Di dalam Al-Quran maupun Hadits tidak ada anjuran spesifik soal tradisi itu. Karena itu wajar jika tradisi saling mengunjungi dan saling berhalal bi halal di hari lebaran hanya ada di nusantara kita Indonesia tercinta ini.
Meski begitu ummat Islam Indonesia umumnya menghayati tradisi peninggalan Wali Songo (Sembilan) tersebut sebagai bahagian yang tak terpisahkan dari Hari Raya Idul Fithri yang tidak hanya penuh kemenangan, tetapi juga saat terbaik untuk membersihkan hati dan seluruh diri.
Seorang yang telah berhasil menjalankan ibadah Puasa Ramadhan sebulan penuh, dan menyempurnakannya dengan Zakat Fithrah, masih akan tetap merasa kurang jika belum saling bermaafan dengan kawan, tetangga, jiran, handai taulan dan relasi apalagi dengan orang tua. Hati masih akan tetap merasa hampa jika pada saat lebaran tidak berada dalam suasana shilaturrahmi yang penuh tawa dan kehangatan persaudaraan.
Para elit ummat dimasa lalu secara futuristik agaknya sudah melihat kebutuhan ummat di masa depan dan kini, ketika mereka cenderung terpecah-belah oleh berbagai perbedaan dan pergesekan sosial, ekonomi, politik dan tanda gambar. Jawaban dari persoalan itu adalah tradisi shilaturrahmi dan saling memaafkan di hari Lebaran. Melalui tradisi ini kesalahan mendapat jalan untuk dimaafkan, dendam menemukan pintu untuk dilupakan, dan ketegangan sosialpun menemukan saat untuk dicairkan. Melalui tardisi itu pula, keretakan antar ummat dapat direkatkan dan relasi social yang positif dapat dibangun kembali.
Karena itu tradisi tersebut tidak sekedar Islami saja, tetapi juga mengandung pesan-pesan yang sangat universal untuk membangun harmoni kehidupan seluruh ummat manusia. Islam sendiri melalui prinsip Hablum Minannas sangat menekankan akan pentingnya harmonisasi itu. Tidak hanya antar ummat Islam saja tetapi dengan seluruh lapisan ummat manusia. Saling menghormati dan menghargai perbedaan masing-masing termasuk dalam internal dan eksternal persyarikatan Muhammadiyah.
Begitu pentingnya relasi horizontal itu sampai Allah menegaskan bahwa tidak akan mengampuni dosa sosial sebelum yang meminta maaf langsung kepada yang bersangkutan.
Karena seorang Muslim yang baik akan pantang menyakiti orang lain. Dan karena itu pula salah besar jika ada anggapan bahwa Islam agama teroris. Sebab ajaran Islam sangat tidak menyepakati tindakan-tindakan kekerasan apalagi jika korbannya orang yang tidak berdosa.
Tradisi shilaturrahmi dan saling memaafkan di hari lebaran merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menjaga harmoni kehidupan seperti itu. Dan itu salah satu makna Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin.
Acara Halal bi Halal ini banyak dilaksanakan oleh berbagai kalangan mulai dari strata yang paling bawah sampai tingkat nasional.
Pada saat shilaturrahmi ini bumi seakan seperti damai selama-lamanya, karena saling merelakan kesalahan, sakit hati ini dicabut, dendam dilebur menjadi senyum manis, permusuhan menguap keudara dan bayangan surga ada dipelupuk mata. Kata Nabi ada lima hal yang membuat damai di bumi ini: yaitu ukhuwah yang terjalin antara makhluk, manusia, senegara dan bangsa, seketurunan dan antara ummat Islam.
Terkadang shilaturahmi tidak berjalan lama, setelah kembali kepada kehidupan masing-masing mulai pula beranjak dari dunia surgawi. Orang kembali berbuat kesalahan. Sakit hari kembali bersemayam, dendan terpendam, permusuhan dikibarkan, cacimaki menjadi tradisi dan seringai menjadi hiasan bibir.
Dalam memasuki era Pemilu tahun 2009 nanti ketika kehidupan politik dipercepat, pergaulan bisa terbelah menurut afiliasi politiknya masing-masing. Maka melalui fasilitas Halal bi Halal ini adalah arena untuk menjauhi sifat yang tidak terpuji itu dan perlu dipupuk selalu sampai hari pemilihan umum yang sudah di ambang pintu.Di Bulan Syawal 1429 H ini hendak kita termasuk orang yang Hablum Minallah dan Hablum Minannas yaitu selalu menebarkan ketenangan, ketentraman dan kedamaian dengan prinsip shilaturrahmi.